Suara Seorang Fans


Performa Bayern di paruh kedua musim 11/12 sangat mengkhawatirkan. Bayern berada di titik nadir. Terakhir, Bayern harus bertekuk lutut dari basel, yang secara objektif harusnya bisa dikalahkan.

Sebagai seorang fan, saya kecewa dengan kondisi tim. Meski bukan berarti saya tidak lagi mendukung Bayern. Kecintaan saya terhadap Bayern tak bisa pupus, apalagi hanya karena segelintir penampilan medioker dari tim Bavaria ini.

Sudah bertahun-tahun saya mendukung bayern. Selama itu pula berbagai fase “rendah” atau “kalah” sudah saya lewati. Yang terburuk adalah kekalahan dari MU di liga champions tahun 99. Saya tetap mendukung Bayern, meski bukan berarti juga saya tidak mengkritisi mereka. Kritik adalah bagian dalam saya mencintai Bayern. Anda bisa setuju, bisa juga tidak. Tak masalah🙂

Lalu apa yang menjadi concern saya pada bayern saat ini:

1. The biggest issue adalah soal passion untuk menang. Ketika sebuah tim bertabur bintang mengalami rangkaian hasil buruk (apalagi melawan tim yang levelnya di bawah) maka salah satu opsi penyebabnya adalah lack of passion. Bahkan menurut saya, ini adalah akar dari semua penyebab kegagalan sebuah tim. Tak peduli sehebat apapun skill para pemain atau betapa berpengalamannya mereka, tanpa passion, you can’t win!

Dari issue ini, persoalan bisa merembet kemana-mana: soal trust, relasi antar anggota tim atau dengan coach bahkan manajemen dsb.

Pertanyaannya, apa yang (mungkin) membuat para pemain bayern seperti kehilangan darah? Bisa jadi karena sudah merasa (terlalu) hebat, lack of leadership (maybe lahm or basti needs to be more aggressive like Kahn or Effe), atau bisa juga karena mereka lelah secara fisik.

Bicara alasan yang terakhir, blame it on Hoeness (and all the directors) and Jupp. It was their decision not to add new players on january. And it was their decision to not giving enough chances for subs like Contento, Pranjic, Usami etc.

Padahal Bayern main di tiga kompetisi, namun amunisinya terbatas. Bukan karena ga mampu beli pemain, tapi karena lack of passion. Atau untuk para directors, istilah yang tepat adalah lack of ambition!! Hoeness boleh berkoar-koar kalau tim yang ada cukup untuk meraih prestasi maksimal di tiga kompetisi. But the fact is football players ain’t machine!!

Selama issue soal passion ini tidak diatasi, jangan terlalu berharap banyak akan ada perubahan signifikan di kubu bayern. Bahkan bisa saja, untuk tahun kedua berturut-turut Bayern puasa gelar😦

2. Tactical issue

Saat ini, Bayern (faktanya) bukan lagi unggulan. Di Bundesliga, Dortmund terus melaju dengan cepat (walau beberapa pemain mereka cedera). Di dfb pokal, Bayern bertemu dengan musuh yang musim ini sudah 2 kali mengalahkan mereka. Dan di liga champions, bayern akan memasuki leg kedua dengan posisi tertinggal 0-1.

Dan sebagai tim “underdog” Bayern perlu tampil lebih agresif dan nothing to lose. Kalau saya jadi pelatih Bayern, saya akan switch tactical formation menjadi 4-4-2. Kalaupun tidak sebagai formasi awal, tapi bisa dimanfaatkan ketika terjadi dead lock dalam serangan Bayern hingga menit ke 60. “Kelebihan” stok winger/AM bisa dimanfaatkan sebagai sarana rotasi menghadapi padatnya jadwal kompetisi. Selain itu, perubahan bisa juga diarahkan menjadi pondasi masa depan permainan Bayern.

But really, issue passion adalah yang terutama menurut saya. Dan semoga seluruh staf dan pemain Bayern mendengar instruksi Rummenigge berikut ini: “It’s time to wake up! You have to get going. There’s no point taking to the field believing everything will look after itself. That won’t be the case! You have to be aggressive and remember the old footballing proverb: all for one and one for all. Gentleman, it has to start on Sunday!”

Atau dengarlah luapan spirit luar biasa dari ex pemain Italia berikut ini (damn even the sissy italian player has this kind of fighting spirit!!!): “For instance Chiellini, before Juventus vs Milan game – I saw him joking around with Allegri, saying ‘oh, you’re winning too many matches.’  Saying it with a big smile on his face.  Now, back then, you would NEVER see something like this.  I remember before any game, and especially big games – I would go into the game with BLOOD in my eyes.  And especially when I used to play against Milan.  I was never exchanging words, or chatting with any of the Milan players – even their coach, Ancelotti, who is good friend of mine.  Not even after the final whistle. Right now, it’s just totally inverse.” Alessio Tacchinardi

While Jupp say something like this: “All in all, our attitude and commitment were good.” Are you kidding, Jupp?

Lebih baik sadar akan kekurangan lalu bangkit daripada berpura-pura tidak terjadi apa-apa dan terus terlena.

Majulah terus, Bayern. Fans mendukung kalian 100%.

Mia san mia.

FOREVER FC BAYERN!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s