Finale Dahoam pt 2


 

Have you read our first part? If yes, then continue with this one😀 If not, go back and read!!! :p #justkidding

Anyway, dalam part 2 ini, kami akan coba mereview taktik Chelsea, khususnya setelah berada di bawah asuhan (ciyeee bahasanya: asuhan cuy hehehe) Di Matteo. Selain itu, kami juga akan memberi update tentang pemain-pemain mereka dan sedikit tentang statistik kedua tim khususnya di Liga Champions musim ini.

1. The Tactic and Players

against liverpool (FA Cup final)

barcelona vs chelsea (leg kedua)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Di atas ini, kami tampilkan dua contoh formasi Chelsea. Pola utama yang digunakan oleh Di Matteo adalah 4-2-3-1, dimana Lampard dan Mikel / Essien menjadi penyeimbang antara lini depan dan belakang. Mostly, mereka mengandalkan counter attack dalam upaya mencetak gol dan mereka punya 3 pemain di belakang striker yang punya kecepatan, intelegensi dan koordinasi yang baik dalam melakukannya. Meski demikian, posisi ketiganya cukup tergantung pada kekuatan serangan lawan juga. Bisa dilihat pada gambar di atas, ketika bermain melawan Barcelona di kandang lawan, ketiga trisula di belakang Drogba lebih sering berada di area pertahanan sendiri.

Ramires, Meireles dan Mata termasuk yang paling sering diandalkan dalam melakukan counter attack yang cepat. Selain itu, Malouda, Kalou dan Sturridge menjadi opsi berikutnya. Lucky for us, Ramires dan Meireles dipastikan absen pada laga final nanti karena terkena akumulasi kartu kuning. Sementara, Malouda dikabarkan mengalami cedera hamstring minor ketika melawan Blackburn Rovers pada hari minggu lalu, namun diyakini akan bisa fit pada laga final. Sturridge sendiri meskipun sempat dianggap tidak terlalu bersinar musim ini, namun trend permainannya sedang menanjak termasuk bermain bagus ketika melawan Blackburn. Secara statistik, penampilannya di Champions League musim ini juga terbilang lumayan. Dia adalah pemain Chelsea kedua (di bawah Torres) yang paling sering melepaskan tendangan ke arah gawang (9 kali dalam 429 menit tampil).

Di depan, mereka punya 2 nama striker papan atas, yaitu Torres dan Drogba. Jika Di Matteo tetap menggunakan formasi 4-2-3-1, maka kemungkinan besar Drogba akan menjadi pilihan pertama. Efisiensi striker yang satu ini luar biasa. Bisa dilihat ketika melawan Liverpool dan Barcelona (leg pertama), bagaimana dia bisa memanfaatkan sedikit peluang yang ada untuk menjadi gol. Bukan hanya itu, “skill negatifnya” untuk melakukan diving perlu diwaspadai. Jangan sampai, kelengahan defenders kita dan ketidakjelian wasit membuat Chelsea bisa mendapatkan hadiah pinalti atau free kick karena Drogba memperagakan aksi diving-nya.

Torres sendiri, meskipun statistik golnya selama bermain dengan Chelsea tidak terlalu impresif, bagaimanapun juga dia adalah tetap pemain yang memiliki skill tinggi. To underestimate his ability would be a disaster for any opponents. Musim ini, ia juga punya peranan yang cukup baik dalam memberikan assist. Di liga Champions, ia adalah pemain Chelsea yang paling banyak memberikan assist yaitu 4 kali dari 9 penampilan. Akan lebih mengerikan jika Di Matteo memilih untuk menurunkan kedua pemain ini bersamaan, entah sejak awal atau pada periode tertentu di pertandingan nanti. Center back kita betul-betul harus konsentrasi dalam menjaga mereka secara ketat dan berupaya tidak memberi ruang bagi duo tersebut.

Di lini belakang, kebingungan terbesar Di Matteo adalah absennya Terry dan Ivanovic. Duo Cahill dan David Luiz terus digenjot untuk bisa tampil sebagai center backs pada laga final di Munich. Keduanya sudah mulai berlatih sejak beberapa waktu terakhir ini, meskipun tidak mempunyai kesempatan turun di laga resmi. Bahkan ketika melawan Blackburn, keduanya tidak masuk daftar pemain cadangan.

Sedangkan untuk posisi wing backs, sepertinya hampir pasti akan diisi oleh Cole dan Bosingwa. Meskipun ada juga beberapa opsi lain seperti Ferreira atau Bertrand, meskipun keduanya tidak terlalu sering tampil musim ini. Selain bagus dalam bertahan, kemampuan Cole dan Bosingwa dalam membantu serangan juga dikenal cukup baik.

Cech? Well, in my opinion, he’s still in the top 10 best GK around. Dan ia juga punya pengalaman yang sangat banyak berlaga di pertandingan-pertandingan krusial. Kelebihannya adalah dalam mengantisipasi bola-bola atas.

Yang jelas, pola permainan Chelsea ini mirip-mirip dengan pola yang ditampilkan Gladbach dan Dortmund ketika mengalahkan Bayern Munchen sepanjang musim ini. So, jika Bayern tidak segera berbenah diri, bukan tidak mungkin Chelsea bisa mencetak 1 atau lebih gol ke gawang Neuer.

One last comment tentang tim Chelsea adalah bahwa mereka relatively sudah berada dalam satu unit sejak waktu yang lama. Lampard, Cole, Terry, Cech dan yang lainnya sudah mengenal satu sama lain dengan baik. Dari waktu ke waktu, mereka semakin bermain sebagai tim bukan individuals dengan egoisme masing-masing.

2. Both Teams Statistics

Chelsea sudah mencetak 24 gol di liga champions dengan rata-rata 2 gol per pertandingan. Rekor ini hanya berbeda tipis dengan Bayern yang sudah mencetak 25 gol sejauh ini. Jumlah kebobolan mereka adalah 11 gol, juga berbeda sedikit saja dengan Bayern yang sudah kemasukan 10 gol.

Dalam hal jumlah percobaan tendangan ke arah gawang, Bayern masih lebih baik dari Chelsea yaitu 90 kali sedang Chelsea “hanya” 78 kali. Namun jika dilihat dari perbandingan goal attempts dan jumlah gol yang dihasilkan, bisa disimpulkan bahwa efisiensi Chelsea lebih baik dari Bayern. Di sisi lain, Chelsea lebih sering melakukan attempts off target yaitu sebanyak 83 kali sedangkan Bayern 65 kali.

Dari sisi penguasaan bola, lagi-lagi statistik menunjukkan bahwa keduanya tidak berbeda jauh di liga Champions musim ini. Ball possession Bayern 56% dan Chelsea 52%.

Sebagai bonus, berikut beberapa data Chelsea di liga domestik:

1. Posisi akhir di klasemen adalah peringkat ke-enam dengan 18 kali menang, 10 kali draw dan 10 kali kalah.

2. Clean sheets: 26%

3. Goals/match: 1,71. Goals conceded/match: 1,21.

4. Paling sering mencetak gol antara menit 40-60, sebanyak 30% dari total gol mereka.

5. Hanya 8% dari total gol mereka dicetak dari luar kotak pinalti, sisanya lahir dari dalam kotak pinalti dan 6% di antaranya dari titik putih.

6. Mereka kebobolan 46 kali, paling sering terjadi di antara menit 50-60.

7. Mereka rata-rata melakukan 10,61 fouls per match.

That’s it for now. Besok kami akan tampilkan cerita tentang tim kita tercinta, FC Bayern Munchen. So, stay tune, everyone.

And if you have any comments, just leave it bellow.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s