Finale Dahoam pt 3


 

Oke, setelah kemarin membahas Chelsea, sekarang fokus kita alihkan kepada klub kesayangan kita, FC Bayern Munchen. Dan di akhir tulisan, kembali kami sajikan beberapa fakta tentang Bayern dan Chelsea.

1. Players and Tactical Approach

Mari kita mulai dengan membahas Daniel Van Buyten. Dalam berbagai polling, termasuk yang kita adakan, DvB tetap menjadi opsi bagi sebagian kalangan untuk masuk ke starting line up. Yang lain memilih Tymo. To be honest, kedua pilihan ini sama-sama berisiko. Namun, dari sisi kondisi fisik dan adaptasi terhadap irama permainan, DvB jelas tidak terlalu baik. Pasca cedera yang sangat panjang, ia baru mulai berlatih beberapa minggu lalu dan baru sekali mencicipi suasana pertandingan, yaitu ketika jumat lalu membela tim reserves Bayern melawan Ingolstadt II. Ia bermain selama 60 menit. Bayern kalah 3-0 pada laga itu dan semua gol terjadi pada saat DvB masih ada di lapangan. Saya tidak bisa memastikan apakah semua gol terjadi karena kesalahan DvB, namun setidaknya hasil tersebut bisa sedikit memberi gambaran betapa DvB masih rentan terhadap adaptasi pertandingan. Sulit membayangkan dia harus berhadapan dengan Drogba dan atau Torres.

Tapi jika Tymo yang dipilih sebagai center back menemani Boateng, kondisinya pun bukan berarti jauh lebih baik. Selain karena ia perlu beradaptasi sebagai seorang CB (meskipun dia lumayan sering menjadi CB bahkan sejak musim lalu), tapi juga dengan dijadikannya Tymo sebagai CB, Bayern tidak memiliki Defensive Midfielder murni. Tidak ada tukang jagal yang bisa menghentikan laju serangan lawan sebelum bertemu back four. Sungguh pilihan yang dilematis dan sulit!

Di posisi wing back, Rafinha dan Contento menjadi opsi utama pengganti Alaba. Secara teknikal, saya pikir keduanya punya plus minus masing-masing. Oleh karenanya, kalau dari sudut pandang saya pribadi, sisi “kenyamanan” bekerjasama dengan Robben dan Ribery menjadi dasar utama siapa yang sebaiknya main sebagai starter. Dan sejauh yang saya tahu, Rafinha tak terlalu “nyetel” dengan Robben.

Di lini tengah, banyak yang berharap duet Basti dan Kroos berada di belakang Ribery, Muller dan Robben. Saya rasa ini opsi terbaik dengan kondisi skuad yang ada. Yang perlu diperhatikan hanya bagaimana positioning mereka ketika bertahan. Saya rasa salah satu prinsip utama Jupp adalah: menyerang dan bertahan sebagai satu unit. Tinggal implementasinya saja yang kita tunggu, karena hal itu tidak tampak ketika melawan Dortmund, tapi sering diperagakan pada awal-awal musim dan juga ketika menghadapi Real Madrid.

Bayern vs Madrid

 

Dalam hal penyerangan, saya berharap banyak ada lebih banyak variasi yang dilakukan oleh Bayern, tidak melulu bertumpu pada Robben dan Ribery. Meskipun, tentu saja, duet wingers ini, jika tampil dalam peak performance, bisa sangat merepotkan pertahanan tim manapun di muka bumi ini. Namun, jika sedang stuck, variasi serangan lewat tengah juga harus diupayakan. Kecepatan juga harusnya menjadi andalan Bayern Munchen. Robben, Ribery, Muller dan Kroos punya kelebihan dalam hal ini dibanding para midfielder atau juga defense Chelsea. One other thing, I hope Basti can really show up as leader in midfield area. Ia memang belum kembali ke permainan puncaknya pasca dua kali cidera musim ini, namun sebaiknya ia tampil habis-habisan pada final UCL.

Selain dari open play, saya rasa Bayern punya peluang mencetak gol lewat set pieces. Kita punya banyak pemain yang bisa mengeksekusi bola-bola mati baik dalam hal tendangan langsung ke arah gawang ataupun untuk mengumpan. Ketika di semifinal melawan Madrid, dua dari tiga gol lahir dari set pieces.

Di depan, Gomez jelas pilihan utama. Dan setelah menjalani beberapa laga dengan tidak terlalu baik, mari kita berharap ia bisa tampil lebih efisien. Buat saya, biarlah ia cuma punya satu atau dua peluang, namun bisa dikonversi menjadi gol, ketimbang punya banyak peluang tapi nihil hasilnya. Jika Luiz dan Cahill yang akhirnya diturunkan Di Matteo sebagai center backs, sebenarnya Gomez punya peluang untuk menerobos lini belakang Chelsea, but once again, dalam partai penting seperti ini, efisiensi menjadi krusial.

After all, I hope we can see Bayern players show more determination and passion in this final match. That is the one thing didn’t come up when we play against Dortmund last week.

2. Facts

# Bayern sudah berlaga 8 kali di final UCL. 4 kali menang dan 4 kali kalah.

# Musim ini di liga Champions, Bayern sudah 6 kali menang di Allianz Arena. Chelsea sendiri ketika tandang, menang 1 kali, draw 3 kali dan kalah 2 kali.

# Mario Gomez sudah mencetak 12 gol.

# Secara statistik, Bayern sebenarnya cukup kuat dalam hal defensif. Bayern adalah tim dengan rekor kebobolan paling sedikit di Bundesliga dan di Liga Champions 10 kali kebobolan.

# Bayern paling sering mencetak gol di antara menit 0-15 dan 31-45, yaitu masing-masing 7 gol. Sedangkan dari sisi kebobolan, sering terjadi di antara menit 31-60, dengan total 6 gol.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s