Memangnya Kenapa Kalau Bayern Bisa Beli Pemain Manapun?


 

Mungkin judul tulisan kali ini adalah judul tulisan saya yang paling provokatif hingga sekarang😀 Tapi tidak mengapa, karena sentimen di luar sana mengenai kebijakan pembelian pemain Bayern kadang tidak berdasar, sehingga memicu saya untuk menulis dengan penuh passion tentang hal itu.

Semua diawali ketika Bayern resmi mengkonfirmasi pembelian Mario Goetze dari klub rival, Dortmund. Bayern dianggap melakukan praktik transfer “kotor” karena menggembosi kekuatan lawan dengan kekuatan finansial yang dimiliki. Reaksi saya pada saat itu: “Memangnya kenapa kalau Bayern bisa beli pemain manapun di muka bumi ini?”

Mari kita break down satu per satu. Benarkah Bayern selalu berfoya-foya di bursa transfer? Meskipun sering membuat rekor pembelian pemain di Bundesliga (bandingkan dengan Madrid atau Barcelona misalnya yang berkompetisi memecahkan rekor pembelian di dunia), Bayern bukanlah klub yang sekedar menghambur-hamburkan uang. Musim lalu misalnya. Terlepas dari pembelian Martinez dengan harga tinggi, pemain-pemain lain didatangkan dengan harga yang relatif murah (jika dibandingkan dengan potensi yang dimiliki). Sebut saja: Shaqiri, Dante dan Mandzukic. Ketiganya menjadi pilar kekuatan Bayern dalam meraih treble winner.

Kalaupun Bayern bisa mengeluarkan banyak uang untuk satu pemain, setidaknya itu adalah uang yang dikumpulkan dengan perencanaan finansial yang luar biasa matang sejak pertengahan 1980-an, bukan sekedar uang hasil investasi investor kaya asal Rusia, Timur Tengah atau Amerika, yang sekedar ingin membangun kerajaan bisnis baru dan bukan mengembangkan sepak bola!!!

Dan sebagai fans, saya bangga bahwa Bayern saat ini menjadi salah satu tim terdepan yang sehat secara finansial di Eropa dan bahkan dunia. Dan, sekali lagi saya katakan: itu semua dibangun dengan perlahan dan cara yang cerdas, bukan sekedar uang pemberian para raja minyak!

Adalah Hoeness dan Hopfner, dua orang yang menjadi otak di balik keberhasilan sukses finansial Bayern. Secara khusus Hopfner, menjadi pengendali dan pembangun keuangan luar biasa di Bayern. Ketika ia bergabung dengan Bayern di tahun 1983, Bayern masih termasuk klub yang berhutang!! Bahkan musim selanjutnya untuk membuat neraca keuangan Bayern membaik, ia harus menjual Rummenigge ke Inter Milan dengan harga 6 juta euro dan menjadi rekor pembelian saat itu.

Dan perlahan tapi pasti, Bayern membangun kekayaannya. Hingga akhir musim 2012/13, Bayern dinyatakan sebagai klub terkaya di dunia. Salah satu prinsip “sederhana” kebijakan keuangan Bayern menurut Hopfner adalah: “We only spend what we’ve already earned. Of course every investment carries its own risks, especially transfers.” Hal itu berlaku untuk berbagai aspek, mulai dari investasi stadion baru (Allianz Arena – 340 juta euro), perbaikan Säbener Strasse dan tentu saja transfer pemain. Intinya, manajemen Bayern tahu berapa yang harus dikeluarkan dan terus menambah pemasukan😀

Isu berikutnya: benarkah Bayern menggembosi kekuatan lawan? Sejak berdiri tahun 1900, Bayern tidak langsung menjadi tim sukses. Bahkan mereka baru bisa menjadi juara Jerman tahun 1932. Dan menjuarai Bundesliga baru di tahun 1968/69. Pada masa-masa awal liga Jerman hingga kemunculan format Bundesliga, klub-klub seperti Nurnberg, Schalke, Gladbach, Dortmund, Hamburg, Werder Bremen sebenarnya cukup mendominasi. Tapi pada saat itu, dibawah kepemimpinan Kurt Landauer, Bayern mulai membangun kekuatannya. Dan kalaupun sekarang Bayern sukses, itulah hasil pembangunan jangka panjang. Dan kalau mau fair, orang juga perlu bertanya / berefleksi: kenapa tim-tim kuat era awal-awal liga Jerman, hingga Bundesliga 60-80-an seperti yang saya sebut di atas sekarang terkejar prestasinya oleh Bayern? Apa yang membuat mereka mundur? Tentu bukan hanya karena Bayern membeli pemain-pemain mereka kan?😀

Lagipula faktanya, setidaknya beberapa tahun terakhir Bayern juga membeli pemain-pemain lain di Bundesliga dengan jumlah yang tergolong tak banyak. 2005/06: DvB dari Hamburg posisi 3 dan Podolski dari Koln posisi 19. 2006/07: Klose (dari Bremen posisi 2 Bundesliga), 2008/09: Gomez dari Stuttgart posisi 3 dan Olic dari Hamburg posisi 5. 2010/11: Neuer dari Schalke posisi 14. Ingat pula, pada saat yang bersamaan pemain-pemain Bayern juga ada yang hengkang keluar klub. Jadi, prinsipnya adalah bagaimana membangun keseimbangan atau bahkan kekuatan baru dengan pemain-pemain baru meskipun pemain lama keluar. Dan itulah kehebatan transfer policy Bayern sejauh ini. Mereka tahu timing kapan harus melepas pemain dan pemain seperti apa yang harus didatangkan sebagai pengganti. At the end, skuad tim paling hanya 20-30 orang kok, tidak mungkin semua pemain hebat di klub lain dibeli Bayern kan?😀

Jangan lupakan juga, Bayern masih terus menghasilkan pemain-pemain berkualitas dari akademinya sendiri. Musim lalu misalnya ada Alaba, Basti, Kroos, Mueller, Badstuber, Contento. Dan saat ini beberapa pemain prospektif seperti Hojbjerg, Green dan Weihrauch diharapkan bisa menjalani transisi ke tim senior.

Perpaduan antara membangun sendiri pemain-pemain berkualitas dari tim junior, membeli pemain berkualitas dengan harga mahal, membidik pemain free transfer dan buy out clause, serta mendatangkan pemain bagus dengan harga murah / below standard menjadi kekuatan strategi transfer pemain yang memberi dampak luar biasa bagi Bayern untuk terus menjadi raksasa di Jerman, Eropa dan Dunia.

Buat tim lain: silahkan pelajari bagaimana Bayern membangun kekuatannya, ketimbang hanya menggerutu melihat Bayern berkuasa😀

 

Mia San Mia 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s