Menjadi Ultras? (Tentang Mencintai FC Bayern)


 

Di Indonesia, khususnya di kalangan fans Bayern, sedang menyeruak sebuah kata yang menjadi sangat populer: ultras. Dan kemunculan kata itu, disadari atau tidak disadari, memunculkan dikotomi: ultras dan bukan ultras.

Saya mencoba mencari beberapa definisi ultras di internet. Bleacher Report suatu kali menulis demikian, ultras adalah: the fans who are inevitably the craziest, the most extreme, the most passionate and quite often, the most violent. Lebih jauh, artikel tersebut juga memaparkan beberapa klub dengan kelompok ultras yang dianggap paling keras, misalnya saja Napoli, St. Pauli, Ajax dll. (http://bleacherreport.com/articles/937447-european-footballs-craziest-ultras-groups-we-count-down-the-top-10).

Saya lanjut browsing lagi, kali ini ke Wikipedia. Disana ditulis kalau ultras itu: a type of sports fans renowned for their fanatical support and elaborate displays. The behavioral tendency of ultras groups includes the use of flares (primarily in tifo choreography), vocal support in large groups and the displaying of banners at football stadiums, all of which are designed to create an atmosphere which encourages their own team and intimidates opposing players and supporters.

The actions of ultras groups can occasionally be overly extreme and are sometimes influenced by political ideologies or racism, in some instances to the point where the central ideology of the ultras phenomenon, passionate and loyal support of your team, becomes a sideshow.

Di Jerman sendiri, meskipun tidak selalu dapat dikonotasikan dengan ultras, namun terdapat sekelompok fans yang terus mendukung tim mereka di laga away dan biasa disebut Schlachtenbummler. Di kalangan fans Bayern, terdapat beberapa kelompok fans yang bisa dibilang identik dengan gerakan ultras seperti Schikeria, NR 12 dan lain-lain. Mereka bahkan bukan cuma nonton tim senior, tapi juga tim Bayern II.

Bagaimana dengan gerakan ultras di Indonesia? Apa sih indikatornya kalau seseorang / sekelompok orang menyatakan diri sebagai pendukung ultras dari sebuah klub sepak bola luar negeri? Saya tekankan penggunaan kata luar negeri, karena menurut saya, akan ada titik beda antara ultras yang memang ada di Jerman dengan kita-kita yang di Indonesia. Berikut beberapa temuan singkat saya:

  1. Koleksi jersey original dari klub kesayangannya. Iya, bukan KW, tapi original. Full patch pula🙂 Kalau perlu dilengkapi dengan berbagai pernak pernik yang langsung dibeli di official shop klub. Topi, handuk, sikat gigi dsb. Bisa dibayangkan berapa banyak rupiah yang mesti dirogoh dari kocek (kocek sendiri loh bukan kocek bapak’e hehe). Tapi ya begitulah, bagi sebagian orang, itu salah satu bukti pengorbanan cinta terhadap klub tercinta (duh bahasanya!).
  2. Kalau timnya main, tidak pernah nonton sendiri, tapi selalu nobra ehm maksudnya nobar. Dan bukan sekedar nonton bareng dengan cara: duduk manis sambil minum es teh manis dan curi-curi pandang ke fans manis yang duduk di meja depan, tapi juga selalu nge-chants. Bukan pula cuma nge-chants pas habis gol, tapi sepanjang laga. 90 menit plus added time🙂 Totalitas yang luar biasa! Bisa dibayangkan betapa paraunya suara sang fan sehabis nobar. Biasanya mereka butuh minuman hangat pasca pertandingan.
  3. Ada juga yang menyebut diri mereka ultras kalau selalu siap untuk streaming ketika tim tercinta tidak disiarkan TV lokal. Walaupun kadang kualitas streamingnya patah-patah, tapi itu tidak mematahkan semangat fans ultras. Memang agak repot sih kalau patah-patahnya pas mau gol. Alhasil, walau fans tidak bisa melihat golnya, namun toh tetap melonjak kegirangan. Dan tak lupa men-twit: Tooooorrrrrrrr. Yang repot kalau ada yang mention abis itu, nanyain: “Golnya gimana, Mas?” (Well, mungkin ini saatnya imajinasi berbicara)🙂
  4. Sebagian ultras lain sibuk mencibir, nyinyir, mencela, menghujat, memaki fans atau klub lain. Biasanya sih di media sosial. Eh, tapi ada juga loh yang mencemooh fans dari klub sendiri, biasanya dengan sebutan: “dasar karbit!!” Lalu melanjutkan dengan membanggakan diri bahwa dia sudah jadi fans Bayern sejak tahun 2014 (sebelum masehi!). Kelompok fans ultras yang masuk bagian ini perlu sering cek kesehatan, hati-hati terserang stroke🙂
  5. Bagi sebagian orang, menjadi ultras itu adalah tampil “garang” di depan publik. Wajah ditutup syal, leher berkalungkan scarf, tangan kanan mengibarkan bendera, tangan kiri memegang ToA. Lalu berdiri tegar di depan motor yang bersticker-kan Hello Kitty (just kidding).

 

Ya, memang tidak mudah untuk mendefinisikan fans ultras klub luar negeri di Indonesia. Barangkali juga memang tidak perlu, karena variabelnya bisa jadi sangat banyak. Indikator-indikator yang saya sebutkan di atas juga bisa jadi tidak (sepenuhnya) tepat. Namun yang jelas, memang ada sekelompok orang yang begitu mencintai sebuah klub bola luar negeri dan perwujudannya bisa macam-macam. Tak ada yang salah dengan hal itu.

Namun, buat saya pribadi, kata kuncinya adalah kecintaan. Dan kecintaan terhadap klub itu (biasanya) tidak bisa instan. Menjadi “ultras” adalah sebuah proses. Proses belajar tentang hal-hal dasar klub. Ya, kan lucu kalau ultras Bayern masih ngomong: “Eh, Bayer mainnya jago ya tadi malem.” Dan kalau ditegur, biasanya ngeles: “Ya, typo kali…” (Typo kok berulang-ulang hahaha). Atau hal dasar lainnya seperti: tahu kapan klubnya tanding. Kan kurang gahar, kalo ngaku ultras tapi salah jadwal dan malah nonton liga lain.

Belajar juga tentang filosofi klub, tentang sejarahnya. Menonton setiap pertandingan. Dan seterusnya, dan seterusnya. Waktulah yang akan membawa Anda untuk sungguh-sungguh mencintai sebuah klub, termasuk FC Bayern.

Dan biasanya, di tengah jalan, akan ada tes-tes kecil maupun besar yang akan menguji cinta Anda (ckckck bahasanya). Tes besar misalnya saja ketika klub tercinta gagal juara selama semusim, dua musim, tiga musim atau bahkan bermusim-musim. Duh, masih bisa cinta ga nih? Atau pindah aja dukung klub tetangga. Capek kan tiap musim hanya bisa (nyaris) juara.

Atau tes kecil seperti pas tim Anda sudah main bagus dan menguasai ball possession, tapi kalah atau draw. Wah, langsung berbagai analisa disajikan bak komentator ulung di acara-acara bola. Harusnya begini. Harusnya begitu. Kesel sih wajar, tapi tak perlu berlebihan juga kan?

Nah, kalau semua ujian sudah terlewati, waktu akan mengantar Anda menjadi seorang fan yang benar-benar cinta dengan sebuah klub atau dalam konteks kita: FC Bayern. Terlepas Anda nanti menyebut diri Anda sebagai ultras atau tidak, after all, buat saya itu semua adalah tentang mencintai klub yang Anda bela. Dan ketika itu sudah tercapai, perwujudannya bisa macam-macam. Bisa seperti yang saya contohkan di atas, bisa juga dengan cara-cara lain. Tak ada benar salah. Tak perlu menghakimi yang lain. Selamat belajar mencintai FC Bayern!!! Dan saya yakinkan Anda, tidak rugi “membuang” waktu untuk belajar tentang FC Bayern. Karena saya sendiri sudah sedikit menjalani waktu bersama FC Bayern and not a single minute, I regret to call myself: FC Bayern Fan.

 

Mia San Mia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s